satelit

Pentingnya Satelit Bagi Indonesia

Pentingnya Satelit Bagi Indonesia

Indonesia adalah sebuah negara kepulauan dengan total luas mencapai 5.175.600 km2.

Dengan luas tersebut dan kondisi geografis yang beragam, tidak ada yang bisa mengcover keseluruhan Indonesia dari Sabang hingga Merauke. Itulah sebabnya, dibutuhkan sebuah teknologi yang bisa mengcover keseluruhan negara ini, dan satelit merupakan teknologi yang bisa melakukannya.

Satelit merupakan sebuah benda yang mengorbit atau bergerak mengitari benda lainnya. Berdasarkan pada fungsinya, satelit dibagi dalam 6 jenis, yaitu:

  1. Satelit pengindraan jarak jauh atau remote sensing satellite.
  2. Satelit cuaca atau weather satellite.
  3. Satelit komunikasi atau communication satellite.
  4. Satelit navigasi atau navigation satellite.
  5. Satelit militer atau military satellite.
  6. Satelit ilmiah atau scientific research satellite.

Untuk lebih jelas mengenai satelit dapat membaca artikel Apa Itu Satelit?.

Indonesia sendiri sudah memanfaatkan teknologi ini sejak diluncurkannya Satelit PALAPA A1 pada 9 Juli 1976 dari Kennedy Space Center. Dengan diluncurkannya satelit tersebut, Indonesia menjadi negara ketiga yang mulai mengoperasikan Sistem Komunikasi Satelit Domestik (SKSD). Satelit tersebut juga berfungsi untuk melancarkan komunikasi di Indonesia melalui layanan telepon dan faksimili. Sebagai satelit Indonesia yang pertama, Satelit PALAPA A1 memegang peranan penting dalam penyebaran media komunikasi di Indonesia.

Seiring dengan perkembangan zaman dan perubahan kondisi di Indonesia, satelit juga harus terus berkembang agar bisa menyeimbangkan dengan kondisi saat ini. Untuk itulah, Indonesia secara berkala meluncurkan satelit-satelit lain dengan penambahan fungsi dan juga mulai mengganti satelit lama dengan yang baru. Beberapa contoh pemanfaatan satelit di Indonesia yaitu:

  1. Melancarkan telekomunikasi dan penyiaran. Satelit yang digunakan yaitu Satelit Palapa, Satelit Cakrawarta, Satelit Merah Putih dan Satelit Nusantara Satu.
  2. Memantau laut di Indonesia untuk mendeteksi kapal yang masuk ke wilayah perairan Indonesia demi mencegah pencurian ikan. Satelit yang digunakan yaitu Satelit INDESCO (Infrastructure Development for Space Oceanography) milik pemerintah dan juga Satelit mandiri kedua milik Indonesia yaitu Satelit LAPAN A2 atau Orari.
  3. Menghubungkan seluruh layanan perbankan ke seluruh daerah di Indonesia, termasuk daerah yang terpencil. Satelit yang digunakan yaitu Satelit BRIsat.
  4. Memantau kondisi bumi khususnya ketika terjadi bencana seperti kebakaran hutan, tanah longsor, maupun kecelakaan. Satelit yang digunakan yaitu Satelit LAPAN Tubsat yang merupakan satelit mandiri Indonesia yang pertama.

Hingga saat ini, Indonesia sudah meluncurkan banyak satelit, dan yang terbaru diluncurkan adalah Satelit Nusantara Satu, sebagai satelit broadband pertama milik Indonesia. Sejarah satelit Indonesia dari awal hingga saat ini dapat di lihat juga pada artikel Sejarah Satelit Indonesia.

Pemerintah Indonesia sendiri berencana memiliki satelit sendiri melalui proyek satelit multifungsi yang nantinya akan menghubungkan masyarakat di daerah terpencil, terdepan dan terluar di Indonesia dengan akses informasi dan telekomunikasi berupa layanan internet dan komunikasi telepon.

Posted by ubiqu in Blog
Internet Satelit Sebagai Solusi Koneksi Untuk Daerah Tanpa Sinyal

Internet Satelit Sebagai Solusi Koneksi Untuk Daerah Tanpa Sinyal

Internet menjadi teknologi yang sudah umum dimanfaatkan oleh masyarakat saat ini. Bahkan, akan banyak sekali masalah yang bisa timbul ketika koneksi internet bermasalah, baik dari segi ekonomi, komunikasi, dan sebagainya. Sayangnya, tidak semua daerah di Indonesia sudah bisa menikmati teknologi ini. Sebab, lokasinya yang terpelosok membuat pihak penyedia teknologi ini mengalami kesulitan untuk menjangkaunya.

Namun, masalah ini bisa terselesaikan dengan kehadiran internet satelit, yaitu jaringan internet tanpa menggunakan kabel atau wireless tetapi menggunakan satelit sebagai media transmisinya. Menggunakan satelit yang berada di luar angkasa membuat internet dengan satelit dapat menjangkau area yang sangat luas bahkan hampir seluruh daerah di Indonesia.

Untuk dapat menerima data yang dikirimkan dari satelit dan mengirimkan data ke satelit, digunakan VSAT atau Very Small Aperture Terminal yang akan dipasang pada sisi pengguna. VSAT ini adalah terminal satelit yang dilengkapi dengan antena berdiameter kecil dan dapat saling berkomunikasi dengan terminal lainnya. Sebenarnya, internet satelit ini sudah ada sejak lama dan bisa dikatakan sebagai teknologi lama tetapi saat ini terus mengalami penyempurnaan.

Kelebihan Internet Satelit

  • Pemasangan relatif mudah dan cepat
  • Perawatan atau pemeliharaan perangkatnya mudah
  • Jangkauan lebih luas dan bisa masuk ke daerah pelosok sekalipun
  • Memiliki kecepatan bit akses dan bandwidth yang tinggi
  • VSAT berukuran kecil sehingga bisa dipasang di mana saja

Salah satu provider penyedia layanan internet satelit dengan VSAT adalah UBIQU. Untuk membantu daerah pelosok agar bisa menikmati internet, UBIQU memiliki sebuah paket khusus yaitu Paket Internet Desa dan Sekolah. Paket ini adalah paket berlangganan yang ditujukan untuk pedesaan maupun sekolah di seluruh Indonesia, termasuk yang berada dalam area 3T (terpencil, terluar, dan tertinggal).

Melalui paket khusus ini, UBIQU ingin masyarakat di desa mampu memanfaatkan teknologi informasi dan komunikasi seperti internet untuk mencari informasi yang mereka butuhkan seperti mengenai pertanian, peternakan, dan sebagainya yang bisa membantu memajukan desanya. Selain itu, paket ini juga bertujuan untuk meningkatkan kualitas pendidikan di seluruh wilayah Indonesia.

Sementara itu, untuk masyarakat umum juga tersedia berbagai pilihan paket lainnya sesuai dengan kebutuhan. Tidak hanyaa untuk kepentingan pribadi saja, UBIQU juga sangat sesuai digunakan dalam bisnis di berbagai bidang, seperti perkebunan, perhotelan, dan sebagainya. Ukuran VSATnya kecil, hanya berdiameter 97 cm, sehingga tidak membutuhkan banyak tempat untuk pemasangan. Meskipun begitu, layanan yang diberikan sangat memuaskan dengan koneksi internet yang cepat bahkan di daerah terpencil sekalipun.

Posted by ubiqu in Blog
PSN membangun satelit baru untuk menjadi perusahaan penyedia layanan broadband terbesar di Indonesia

PSN membangun satelit baru untuk menjadi perusahaan penyedia layanan broadband terbesar di Indonesia

JAKARTA, 5 Desember 2017 – PT Pasifik Satelit Nusantara (PSN), perusahaan swasta pertama di sektor jasa telekomunikasi dan informasi berbasis satelit di Indonesia, kembali melakukan aksi korporasi dengan membangun satelit baru yang akan dinamai PSN VI. Satelit baru ini akan di operasikan dan dikelola oleh anak usaha PSN, yaitu PT PSN Enam Indonesia dan didukung oleh pembiayaan dari Export Development Canada (EDC), lembaga kredit ekspor Kanada. Satelit PSN VI  dibangun oleh Space System/Loral, perusahaan pembuat satelit terkemuka dari Amerika Serikat dan ditargetkan mengorbit pada akhir tahun 2018 pada slot orbit 1460BT yang dikelola oleh PSN.

Acara penandatanganan kerjasama pembiayaan antara PT PSN Enam Indonesia dengan EDC dilakukan hari ini di Hotel Grand Hyatt, Jakarta oleh Nedy Zachry, Direktur PT PSN Enam Indonesia dengan Tushar Handiekar, Director, Infrastructure & Industrials, Structured & Project Finance Export Development Canada (EDC) yang disaksikan oleh Adi Rahman Adiwoso, CEO PT. Pasifik Satelit Nusantara. Kegiatan ini juga dihadiri oleh Menteri Komunikasi dan Informasi, Rudiantara, jajaran Direksi PSN dan anak usaha, serta manajemen dari EDC, Kanada. Perjanjian pembiayaan dengan EDC ditandatangani pada tanggal 25 Oktober 2017 di Jakarta dan Ottawa, Kanada.

Chief Executive Officer PSN Adi Rahman Adiwoso mengatakan, pembangunan satelit PSN VI akan mengukuhkan posisi perusahaan sebagai penyedia layanan broadband terbesar di Indonesia. Langkah strategis ini juga merupakan bagian dari komitmen PSN untuk mendukung program kemandirian satelit Indonesia yang dicanangkan oleh Pemerintah Indonesia serta mengoptimalkan peluang perusahaan satelit domestik untuk memenuhi kebutuhan data broadband di Indonesia yang sangat tinggi.

“Sebagai pionir perusahaan satelit di Indonesia, PSN terus berupaya untuk memenuhi kebutuhan layanan satelit yang terus meningkat dengan menambah satelit-satelit baru dengan teknologi yang lebih canggih agar layanan komunikasi baik data maupun suara dapat dinikmati oleh lebih banyak masyarakat Indonesia. Kami berharap layanan satelit PSN dapat menjangkau seluruh wilayah Indonesia dan ikut menggerakan perekonomian nasional,” kata Adi Rahman di Jakarta, Selasa (5/12).

PSN VI memiliki kapasitas transponder C Band dan Ku Band yang dapat menjangkau seluruh pelosok wilayah di Indonesia. Transponder C band rencananya akan digunakan untuk melayani kebutuhan cellular trunking dan komunikasi data perusahaan maupun lembaga pemerintahan di seluruh wilayah Indonesia.

Transponder Ku Band ditujukan untuk melayani kebutuhan internet kecepatan tinggi melalui satelit.  PSN VI akan memiliki kemampuan sebagai High Throughput Satellite (HTS) pertama di Indonesia yang dapat  memberikan layanan internet broadband dengan kapasitas jauh lebih besar dibandingkan dengan satelit konvensional untuk alokasi spektrum yang sama.

Untuk meningkatkan kapasitas layanannya serta memberikan layanan yang cost effective bagi pelanggannya, PSN secara konsisten terus membangun satelit dengan teknologi-teknologi canggih.  PSN dengan dukungan dari PT Pintar Nusantara Sejahtera yang merupakan pemegang saham utama PSN, dan mitra strategis lainnya, juga sedang membangun Satelit Palapa-N1 yang direncanakan beroperasi pada 2020. PSN juga sedang merancang satelit PSN VII yang ditargetkan dapat melayani konsumen mulai tahun 2022. Dengan beroperasinya seluruh satelit tersebut, Grup PSN akan menjadi perusahaan penyedia layanan broadband satelit terbesar di Indonesia dengan kapasitas 130 Gbps.

Adi Rahman menjelaskan, perubahan gaya hidup dan aktvitas ekonomi masyarakat yang terus meningkat akan mendorong kebutuhan data melalui akses satelit broadband di Indonesia yang akan mencapai angka 160 Gbps di tahun 2020. Oleh karena itu, melalui pembangunan dan pengoperasian satelit-satelit baru, PSN berharap dapat mendukung proyek strategis nasional untuk menghilangkan digital gap dan memenuhi kebutuhan akses broadband internet.

“Satelit PSN VI ini merupakan infrastruktur penting untuk memenuhi kebutuhan jaringan komunikasi berupa data di Indonesia sebagai negara kepulauan. Satelit merupakan salah satu medium yang efisien untuk menjangkau wilayah yang sulit dan tidak dapat dilayani oleh jaringan infrastruktur terestrial seperti menggunakan fiber optic dan microwave link,” jelas Adi Rahman.

Meningkatnya jumlah kelas menengah dan semakin tinggi daya beli masyarakat Indonesia telah mendorong penggunaan internet semakin tinggi. Menurut lembaga riset pasar e-Marketer,  populasi pengguna internet di Indonesia melonjak dari 83,7 juta orang pada 2014 menjadi sekitar Rp 112 juta pada tahun 2017. Besarnya pengguna internet ini telah mendorong sektor e-commerce di Indonesia juga tumbuh pesat. Pada tahun 2020, Kementerian Komunikasi dan Informatika memperkirakan, potensi per  putaran uang dari sektor e-commerce akan US$ 130 Miliar atau sekitar Rp 1.775 triliun.

Menurut Adi Rahman, internet telah membawa perubahan dan peluang-peluang baru dalam kehidupan masyarakat Indonesia. Pembangunan dan pengoperasian satelit yang dilakukan PSN diharapkan dapat menciptakan multiplier effect ekonomi di seluruh wilayah Indonesia.

“Satelit adalah infrastruktur komunikasi dan telekomunikasi yang lebih efisien dengan jangkauan luas. Berbagai keunggulan inilah yang dapat dioptimalkan oleh masyarakat Indonesia untuk membangun peradaban dan kehidupan yang lebih baik,” ujarnya.

Bill Brown, VP Regional EDC mengatakan,”EDC terus menyediakan solusi finansial untuk memperkuat hubungan  yang kian erat antara perusahaan teknologi terdepan Kanada dengan para pembeli dari Asia Tenggara. Transaksi PSN ini adalah contoh yang pas bagaimana pembiayaan dari EDC dapat membantu menciptakan hasil akhir yang positif bagi semua pihak, dan kami berharap untuk bisa melakukan lebih banyak deal-deal semacam ini di Indonesia,”

Menteri Komunikasi dan Informatika Rudiantara  menyampaikan apresiasi dan dukungannya terhadap kesepakatan kerja sama yang dilakukan PSN dengan EDC. “Pemerintah sangat mengapresiasi keterlibatan aktif pelaku usaha dan inisiatif yang dilakukan PSN bisa mewujudkan cita-cita pemerintah untuk menghubungkan seluruh wilayah Indonesia dengan internet, sehingga kegiatan ekonomi bertambah efisien,” kata Rudiantara.

 

Posted by ubiqu in Berita
Apa itu Satelit?

Apa itu Satelit?

Pengertian Satelit

Kata satelit berasal dari kata latin satelles yang diartikan pelayan, atau seseorang yang mematuhi atau melayani pihak lain. Sedangkan secara ilmiah, satelit adalah suatu benda yan bergerak mengitari benda lain—biasanya lebih besar— dalam jalur yang dapat diprediksi yang disebut orbit, atau singkatnya setiap benda angkasa yang bergerak mengitari sebuah planet membentuk jalur lingkaran atau eliptikal.

Satelit sendiri secara sederhana dibagi menjadi 2 jenis yaitu:

  1. Satelit Alami. Satelit yang memang berasal dari alam, contoh sederhananya adalah bulan yang menjadi satelit alami bagi bumi. Bumi dan planet-planet lain dalam tata surya kita juga menjadi satelit alami dari matahari.
  2. Satelit Buatan. Satelit yang dibuat oleh manusia ditempatkan disuatu orbit menggunakan kendaraan peluncur untuk fungsi tertentu, untuk komunikasi, pemetaan, monitor cuaca dan lain sebagainya. Contohnya seperti satelit Palapa, Telkom, Garuda, Indostar dan banyak lainnya.

Macam-macam Satelit & Kegunaannya

Satelit buatan manusia ini terdiri dari berbagai macam bentuk dan memiliki kegunaannya tersendiri. Satelit buatan dapat dibedakan menjadi sebagai berikut:

  1. Satelit pengindraan jarak jauh atau remote sensing satellite: dirancang khusus untuk mengamati bumi dari orbit ditujukan untuk penggunaan non militer seperti pengawasan lingkungan, meteorologi, peta dan lain-lain.
  2. Satelit cuaca atau weather satellite: digunakan berfungsi untuk memonitor kondisi cuaca dan iklim bumi.
  3. Satelit komunikasi atau communication satellite: adalah satelit yang digunakan untuk sistem komunikasi jarak jauh, baik itu untuk layanan telepon, data dan internet.
  4. Satelit navigasi atau navigation satellite: sistem satelit yang menyediakan posisi geospasial secara mandiri dengan jangkauan global biasa juga disebut satelit GPS yang digunakan untuk navigasi darat, laut, dan udara.
  5. Satelit militer atau military satellite: digunakan untuk kepentingan militer seperti intelligence gathering pengamatan intelejen berbasis satelit, navigasi dan komunikasi militer.
  6. Satelit ilmiah atau scientific research satellite: satelit yang menyediakan informasi meteorologi, data survei tanah (remote sensing), radio amatir dan berbagai aplikasi riset ilmiah lainnya.

Slot Orbit Satelit

Orbit satelit merupakan sebuah jalur atau lintasan di angkasa yang dilalui oleh pusat massa satelit. Sedangkan istilah slot orbit satelit sendiri menunjukkan lokasi tertentu pada orbit satelit. Di dunia satelit, setiap satelit di luar angkasa akan memiliki slot orbitnya sendiri-sendiri agar tidak saling bertabrakan.

Satelit bergerak di angkasa mengelilingi bumi (revolusi) dengan kecepatan tinggi agar tidak jatuh ke permukaan bumi. Satelit juga mengalami gaya gravitasi, terutama gaya gravitasi bumi, bulan dan matahari.

Berdasarkan ketinggian dari garis edarnya (orbit), satelit dibedakan menjadi 3 jenis, antara lain:

Geostationary Earth Orbit (GEO)

GEO merupakan satelit yang mengorbit pada ketinggian kurang lebih 36.000 kilometer di atas bumi. Di orbit ini satelit bergerak dengan kecepatan kira-kira 3 km/detik. Secara tidak langsung bisa dibilang satelit tersebut bergerak dengan kecepatan yang sama persis dengan kecepatan rotasi bumi, sehingga satelit terlihat seolah-olah diam jika di lihat dari permukaan bumi.

Satelit yang mengorbit pada GEO memiliki karakteristik sebagai berikut :

  1. Satelit akan mengelilingi orbit dalam waktu selama 23,9 jam hampir sama dengan rotasi bumi.
  2. Karena kecepatannya di orbit yang sama dengan kecepatan rotasi bumi, maka satelit pada orbit GEO seakan diam dan selalu pada posisinya. Jadi apabila satelit berada di atas Indonesia atau negara lainnya, satelit tersebut akan selalu di atas negara tersebut.
  3. Latency–waktu yang dibutuhkan untuk perambatan gelombang dari bumi ke satelit dan kembali lagi ke bumi membutuhkan waktu selama 250ms hingga 1 detik.
  4. Memiliki area cakupan yang luas. Hanya perlu beberapa satelit untuk meng-cover seluruh bumi.
  5. Satelit yang berada pada orbit GEO berada dalam 1 ring tunggal di atas ekuator/khatulistiwa, sehingga slot untuk satelit GEO sangat terbatas.

Contoh satelit pada orbit GEO antara lain: Satelit Palapa, Satelit Telkom, Garuda, IndoStar dan PSN.

Medium Earth Orbit (MEO)

MEO merupakan satelit yang mengorbit mulai pada ketinggian 2.000 – 35.000 kilometer dari bumi, lebih rendah dari orbit GEO. Karena lebih dekat dengan permukaan bumi, periode satelit dalam mengelilingi orbit akan semakin tinggi. Sehingga jika dilihat dari permukaan bumi satelit akan tampak terus bergerak.

Berikut ini beberapa karakteristik satelit yang mengorbit pada MEO:

  1. Satelit akan selesai mengelilingi orbit lebih cepat dari rotasi bumi, dalam waktu 5 – 12 jam per 1 kali putar. Karena kecepatan satelit pada orbit MEO sekitar 19.000 km/jam.
  2. Karena kecepatan orbitnya lebih cepat dari rotasi bumi, maka satelit akan tampak bergerak jika dilihat dari bumi.
  3. Latency yang lebih rendah dibanding GEO.
  4. Memiliki area cakupan yang lebih kecil dibanding GEO, sehingga jumlah satelit yang dibutuhkan untuk meng-cover bumi bisa puluhan satelit.
  5. Satelit yang berada pada orbit MEO dapat memiliki lintasan yang berbeda, tidak harus berada di atas ekuator, dapat menyilang, atau bahkan melewati kutub utara dan kutub selatan.

Orbit MEO ini biasanya digunakan untuk satelit-satelit penginderaan (pengolahan citra, cuaca dan lain-lain) termasuk juga sistem satelit GPS (Global Positioning Satellite) milik Amerika yang berada di ketinggian 20.000 km atau GLONASS(Global Navigation Satellite System) milik Rusia yang berada di ketinggian 19.000 km .

Low Earth Orbit (LEO)

LEO merupakan orbit satelit dengan ketinggian yang paling rendah diantara yang lain. Ketinggian satelit pada orbit ini sekitar 500 – 2000 kilometer (di bawah orbit MEO) dari bumi. Memiliki karakteristik yang mirip dengan orbit MEO, dimana peiode satelit dalam mengelilingi orbit lebih cepat dari rotasi bumi.

Satelit yang mengorbit pada LEO memiliki karakteristik sebagai berikut :

  1.  Satelit akan selesai mengelilingi bumi dalam waktu 1,5 jam, atau sekitar 16 kali dalam sehari. Dengan kecepatan 27.000 km/jam.
  2. Dengan kecepatan tersebut, satelit ini akan tampak bergerak jika dilihat dari bumi.
  3. Latency paling rendah diantara satelit GEO dan MEO
  4. Area cakupan paling kecil jika dibandingkan GEO dan MEO. Membutuhkan jumlah satelit yang lebih banyak untuk area yang sama dengan dengan satelit GEO.
  5. Satelit yang berada pada orbit LEO juga dapat memiliki lintasan yang berbeda, tidak harus berada di atas ekuator, dapat menyilang, atau bahkan melewati kutub utara dan kutub selatan.

Orbit LEO ini biasanya digunakan untuk satelit dengan sistem telekomunikasi bergerak pada mobile, seperti sistem satelit Iridium dan Global Star.

Spektrum Frekuensi Satelit

Penggunaan spektrum frekuensi diatur secara global oleh ITU (International Telecommunication Union)—badan di bawah PBB yang bekerja di bidang telekomunikasi—, tujuannya untuk menghindari adanya gangguan dari penggunaan yang sembarangan.

Begitu juga dengan spektrum frekuensi satelit, selain dibedakan berdasarkan orbitnya, satelit juga dapat dibedakan dengan penggunaan spektrum frekuensi pada transpondernya.

Apa itu transponder? Transponder di satelit adalah perangkat yang digunakan untuk mengirim dan menerima sinyal. Sebuah satelit dapat memilki banyak transponder, tergantung dari desain dan tujuan penggunaannya.

Sebagai contoh misalnya Satelit Palapa-D memiliki 40 transponder yang terdiri dari 24 transponder C-band, 11 transponder Ku-band dan 5 transponder Extended C-band. Jumlah transponder sebanyak ini dimaksudkan untuk mengatisipasi kebutuhan pelanggan yang semakin meningkat. Dulu satelit Palapa generasi pertama (Palapa-A1) hanya membawa 12 transponder saja (C-band) karena pada zaman itu (Papala-A1 diluncurkan bulan Juli 1976) kebutuhan akan transponder masih sangat rendah.

Berikut ini adalah alokasi spektruk frekuensi satelit secara internsional.

L-band (1 – 2 GHz)

Digunakan untuk layanan telepon bergerak berbasis satelit, radio satelit, tahan terhadap cuaca, bandwidth kecil.

Frekuensi ini pernah digunakan oleh Satelit Garuda-1 untuk layanan telepon satelit BYRU dan PASTI.

S-band (2-4 GHz)

Digunakan untuk sistem radar dan sistem komunikasi maupun broadcast, tahan terhadap cuaca dengan badwidth terbatas.

S-band di Indonesia digunakan oleh layanan TV Satelit Indovision dari MNC.

C-band (4-8 GHz)

Biasa digunakan untuk sistem komunikasi, broadcast jaringan TV atau data. Cocok digunakan di daerah tropis karena tahan terhadap perubahan cuaca (hujan), memiliki bandwidth yang fleksibel dari kecil hingga besar.

C-band ini banyak dimiliki satelit yang digunakan di Indonesia dan diaplikasikan untuk layanan internet atau network yang membutuhkan reliabilitas tinggi seperti bank, contoh paling mudah kita temui adalah pada layanan ATM yang tersebar di beberapa lokasi.

X-band (8-12 GHz)

Umumnya digunakan oleh militer untuk sistem radar, sistem pertahanan dan navigasi baik di udara, laut maupun darat.

Ku-band (12-18 GHz)

Banyak digunakan sebagai sistem komunikasi dan broadcast TV, rentan terhadap gangguan cuaca namun memiliki bandwdith yang besar.

Frekuensi Ku-band saat ini adalah frekuensi yang cukup populer digunakan di Indonesia, beberapa operator tv satelit menggunakan frekuensi ini. Begitu juga dengan beberapa layanan internet satelit di Indonesia, hal ini karena Ku-band memiliki bandwidth yang lebih besar, antenna yang lebih kecil dan harga yang lebih murah dibanding C-band.

Ka-band (26-40 GHz)

Digunakan sebagai sistem komunikasi dan broadcast TV, juga sistem radar jarak dekat dengan resolusi tinggi di militer, sangat rentan terhadap perubahan cuaca dan memiliki bandwidth yang besar di atas Ku-band.

Beberapa layanan internet satelit di Amerika dan Eropa sudah menggunakan frekuensi ini sehingga bandwidth yang diberikan dapat bersaing dengan bandwidth jaringan kabel atau GSM.

Dari beberapa daftar di atas dapat dijelaskan makin tinggi frekuensi yang digunakan maka bandwidth yang dapat makin besar dengan konsekuensi makin rentan terhadap gangguan cuaca.

Kenapa Kita Butuh Satelit?

Ok dari awal kita sudah membahas tentang apa itu satelit, klasifikasi berdasarkan orbitnya dan frekuensi transponder yang digunakan.

Pertanyaan yang muncul, kenapa kita butuh satelit? Apakah ada alternatif lain selain satelit?

Terrestrial vs Satelit

Sebelum kita menjawab pertanyaan tersebut kita coba jelaskan dulu bahwa di dunia telekomukasi dikenal 2 jenis sistem komunikasi, yaitu sistem telekomunikasi terrestrial dan sistem telekomunikasi satelit.

Sistem telekomunikasi terrestrial adalah sistem telekomunikasi yang dibangun dan dijalankan dipermukaan bumi dan menggunakan infrastruktur di darat untuk transmisi datanya baik itu melalui kabel, fiber optik, maupun gelombang radio.

Contohnya adalah ADSL seperti Speedy, Fiber Optik seperti IndiHome dan GSM/CDMA seperti Telkomsel, Indosat, XL dan lain-lain.

Sementara sistem telekomunikasi satelit adalah sistem telekomunikasi yang menggunakan satelit di angkasa untuk transmisi datanya. Sistem telekomunikasi satelit biasanya memiliki area cakupan yang lebih luas dibanding terrestrial, bisa digunakan dimana saja bahkan di daerah yang tidak terjangkau oleh telekomunikasi terrestrial.

Jadi kenapa satelit?

Satelit dapat mengatasi beberapa hal yang dapat menjadi kendala pada sistem telekomunikasi terestrial entah itu waktu, jarak atau kompleksitas konten.

Dengan satelit, daerah yang jauh  dapat dengan mudah memiliki sistem komunikasi yang sama dengan di kota dan dapat menghubungkan dengan daerah lain dengan lebih cepat.

Satelit memiliki area cakupan yang luas sehingga, bandwidth yang besar dan instalasi yang lebih cepat dengan karakteristik layanan yang seragam.

Indonesia membutuhkan satelit karena terdiri dari beberapa pulau dan kontur geografisnya yang beraneka ragam, dimana akan sangat sulit untuk sistem komunikasi terrestrial untuk dapat mengcover seluruh wilayahnya.

Satelit juga menjadi solusi untuk pemerataan akses telekomunikasi hingga ke pelosok nusantara.

 

Referensi
Satelit untuk anak bangsa – ASSI
https://id.wikipedia.org/wiki/Satelit
http://www.esa.int/Our_Activities/Telecommunications_Integrated_Applications/Satellite_frequency_bands
http://www.rfwireless-world.com/Terminology/satellite-based-communication-vs-terrestrial-based-communication.html

Posted by ubiqu in Blog
Sejarah Satelit Indonesia

Sejarah Satelit Indonesia

Sejarah Satelit Indonesia

Sejarah satelit di Indonesia tidak terlepas dari dimulainya peluncuran satelit Palapa A1 dari Kennedy Space Center, Tanjung Canaveral, Amerika Serikat, pada 9 Juli 1976.

Pada masa tersebut, Indonesia adalah negara pertama di Asia dan negara ketiga di dunia yang mengoperasikan Sistem Komunikasi Satelit Domestik (SKSD) menggunakan Satelit GEO setelah Amerika Serikat dan Kanada.

 

Nama PALAPA diberikan Presiden Soeharto untuk satelit tersebut, mengacu pada sumpah Patih Gajah Mada dari Kerajaan Majapahit pada tahun 1334, yang menyatakan tidak akan pensiun dini sebelum nusantara bersatu di bawah panji-panji Kerajaan Majapahit.

 

Palapa A1 menjadi SKSD pertama di Indonesia yang memberikan layanan telepon dan faksimili antar kota di Indonesia. Lalu, SKSD juga berkembang menjadi infrastruktur utama pendistribusian program televisi nasional. Palapa A1 menjadi tonggak sejarah satelit di Indonesia yang kemudian diikuti dengan satelit-satelit berikutnya.

Setelah satelit Palapa hadir dengan beberapa generasinya, Indonesia terus meluncurkan beberapa satelit lainnya seperti Telkom, Cakrawarta, Indostar, Garuda dan PSN. Di Indonesia sendiri setidaknya tercatat ada 5 operator satelit nasional yang memiliki dan mengelola satelitnya sendiri, antara lain: TELKOM, INDOSAT, PSN, MNC dan BRI.

Berikut ini adalah beberapa satelit-satelit komersial yang pernah dan dimiliki Indonesia dari awal hingga beberapa rencana ke depan:

 

Palapa-A

Satelit pertama Indonesia ini memiliki spesifikasi yang mirip dengan satelit domestik yang digunakan Kanada dan Amerika Serikat karena dibuat oleh perusahaan yang sama Hughes Aircraft Company dengan model HS-333.

Palapa A memiliki 12 transponder dengan kapasitas setara 6.000 sirkut suara atau 12 saluran televisi warna, memiliki masa aktif hingga 7 tahun dengan tinggi satelit 3.41 meter, diameter 1.9 meter dan berat saat peluncuran sebesar 574 kg.

Area coverage satelit Palapa meliputi Indonesia dan Asia Tenggara — Singapura, Malaysia, Thailand dan Filipina. Dikendalikan dan dioperasikan oleh PERUMTEL (sekarang TELKOM). Transponder dialokasikan  untuk sistem komunikasi yang digunakan oleh PERUMTEL, siaran TVRI dan juga Kementrian Pertahanan dan Keamanan. Negara ASEAN juga memanfaatkan transponder satelit Palapa A yaitu Filipina, Thailand dan Malaysia.

Palapa-B

Palapa B adalah penerus dari satelit Palapa A, generasi kedua satelit Indonesia yang dibuat oleh perusahaan Hughes Space and Communication Company dengan model HS-376.

Palapa B mempunyai kapasitas yang 2 kali lebih besar dari generasi sebelumnya, memiliki 24 transponder dengan daya listrik 4 kali lipat. Satelit ini memiliki diameter 2.16 meter, tinggi 6.96 meter dan berat sebesar 691.73 kg pada saat peluncuran.

Khusus Palapa-B2, mengalami keagalan pada saat penempatan orbit. Satelit ini kemudian diambil dan diperbaiki oleh Hughes dan diluncurkan kembali dengan nama Palapa B2R. Satelit Palapa B ini juga dikendalikan dan dioperasikan oleh PERUMTEL.

Palapa-C

Satelit ini dibuat oleh perusahaan yang sama dengan 2 generasi satelit sebelumnya, Hughes Space and Communication Company dengan platform HS-601 yang berbeda dengan bentuk satelit sebelumnya.

Palapa-C memiliki 30 transponder C-band dan 4 transponder Ku-band. Dengan area coverage meliputi Indonesia, Asia Tenggara, sebagaian China, India dan Jepang hingga Australia.Berbeda dengan Palapa A dan Palapa B yang dioperasikan oleh PERUMTEL, Palapa C dioperasikan oleh SATELINDO (sekarang INDOSAT)

Untuk Palapa-C1 terjadi gangguan pada sistem pengisian dayanya sehingga satelit tidak memiliki tenaga cadangan pada saat musim gerhana (yang terjadi selama 2 kali dalam setahun). Palapa-C2 diluncurkan untuk menggantikan satelit Palapa-C1.

Palapa-D

Palapa-D merupakan satelit pengganti Palapa-C yang ditempatkan di slot orbit 113 BT. Satelit ini dibangun oleh Thales Alenia Space dari Perancis menggunakan platform SpaceBus 4000-B3 yang cukup efesien dan bertenaga.

Palapa-D membawa 35 transponder C-band dan 5 transponder Ku-band dengan coverage area hingga benua Asia, Asean dan seluruh Indonesia,  dengan umur satelit hingga  15 tahun.

Cakrawarta/Indostar

Cakrawarta adalah satelit milik perusahaan PT. Media Citra Indostar (MCI), anak perusahaan MNC Group yang digunakan untuk penyiaran Direct to Home (DTH) Indovision. Satelit Cakrawarta-1/Indostar-1 dikembangkan oleh Orbital Science Corporation yang merupakan basis dari platform STAR Bus pertama dengan desain masa pakai hingga 14 tahun.

Satelit ini merupakan satelit penyiaran DTH pertama di Asia, yang diluncurkan menggunakan roket Ariane dari Kourou, Guyana Prancis, sekaligus menjadi satelit komersial pertama di dunia yang menggunakan frekuensi S-band. Fruekensi S-band ini cocok digunakan di Indonesia yang beriklim tropis dan lebih tahan cuaca daripada fruekensi C-band dan Ku-band.

Pada April 1998, terjadi masalah teknis di satelit Cakrawarta-1 berupa anomali pada regulator daya listrik yang berdampak 2 dari 5 transponder satelit tidak bisa digunakan pada saat memasuki gerhana.

Satelit Indostar-2 digunakan untuk menggantikan satelit Cakrawarta-1/Indostar-1 yang telah habis masa pakainya. Indostar-2 semula bernama Protostar-2 yang kemudian berganti nama setelah MCI membelinya dari Protostar, Ltd. Indostar-2 menggunakan platform 3 aksis BSS-601HP milik Boeing Satellite System dengan kapasitas hingga 10 transponder S-band dengan coverage seluruh Indonesia.

M2A (Multi Media Asia)

PT. Pasifik Satelit Nusantara (PSN) sebagai perusahaan satelit swasta pertama di Indonesia melakukan penandatanganan kontrak dengan Space Sytem/Loral (SS/L) untuk pengadaan sistem satelit M2A menggunakan bus/platform SSL-1300S dengan kemampuan daya listrik 10.4 kilowatt dan masa pakai hingga 12 tahun. Desain antennanya mampu meberikan jangkauan multi-beam untuk wilayah Asia Pasifik, termasuk Australia, India, China, Indochina, Korea, Jepang dan negara Asean.

Dengan estimasi berat  sekitar 1960 kg, kapasitas satelit M2A ekuivalen dengan 84 transponder C-band dengan 200.000 sirkuit simultan, sehingga pada saat itu desain satelit ini merupakan satelit C-band paling kuat dan mumpuni. Satelit ini rencananya akan digunakan untuk sistem telepon, akses data, faksimili, internet dan layanan multimedia.

Sayangnya pada tahun 1997 – 1998 terjadi krisis moneter yang menghantam Indonesia, sehingga berimbas pada proyek satelit ini yang akhirnya dibatalkan untuk selamanya.

Telkom

Karena brand name Palapa telah diambil alih oleh SATELINDO dan lifetime satelit Palapa-B2R akan berakhir, PT. Telkom menunjuk Lockhead Martin Commercial Space Systems (LMCSS) untuk mebangun satelit pengganti Palapa-B2R dengan nama Telkom-1 menggunakan platform A2100A.

Telkom-1 memiliki 24 transponder C-band dan 12 transponder extended C-band yang digunakan untuk aplikasi telekomunikasi, termasuk trafik digital kecepatan tinggi untuk VSAT. Memiliki coverage yang luas dengan jangkauan seluruh Indonesia, sebagian Asia Tenggara dan Australia Utara.

Meskipun diperkirakan masih dapat beroperasi hingga 2020, pada Agustus 2017 lalu satelit Telkom-1 mengalami anomali dan kegagalan sistem yang berimbas pada terganggunya siaran televisi, ribuan koneksi ATM Bank dan VSAT di seluruh Indonesia. Rencanaya satelit Telkom-4 akan diluncurkan pada 2018 untuk menggantikan satelit Telkom-1 ini.

Telkom-2 dibuat oleh Orbital Sciences dengan platform Star-2 dan diluncurkan dengan roket Ariane-5 pada November 2005 merupakan satelit pengganti untuk Palapa-B4. Memiliki kapasitas 24 transponder C-band dengan rancangan masa aktif hingga 15 tahun.

Telkom-3 adalah satelit Telkom yang gagal mencapai orbitnya, satelit ini dibuat oleh JSC Information Satellite System Academician M.F. Reshetnev dengan platform Ekspress-1000N, dengan 32 transponder C-band dan 10 transponder Ku-band dan rancangan masa aktif hingga 15 tahun.

Telkom-3S merupakan satelit pengganti Telkom-3 yang dibuat oleh Thales Alenia Space menggunakan platform generasi baru Spacebus-400B2 dengan 24 transponder C-band, 8 transponder extended C-band dan 10 transponder Ku-band. Satelit ini memiliki coverage Indonesia dan Asia Tenggara, diluncurkan pada 2017 lalu dengan menggunakan roket Arianespace.

Space System Loral (SSL) dipilih Telkom untuk membuat Telkom-4 yang diproyeksikan sebagai pengganti satelit Telkom-1, menggunakan platform SSL-1300 dengan kapasitas besar 60 transponder C-band dan masa aktif hingga 15 tahun. PT. Telkom berencana akan meluncurkan satelit ini pada tahun 2018.

Garuda

Satelit Garuda-1 merupakan satelit pertama yang digunakan untuk pasar komunikasi telepon bergerak di Asia. Satelit ini dimiliki oleh Asia Cellular Satellite (ACeS yang merupakan gabungan dari Pasifik Satelit Nusantara (PSN), Lockheed Martin Global Telecommunications (LMGT), Philippines Long Distance Telephone Company (PLDT) dan Jasmine International Overseas Company Ltd.

Menggunakan platform A2100AXX dari Lockheed Martin Commercial Space Systems (LMCSS), Garuda-1 merupakan salah satu satelit telekomunikasi paling kuat yang pernah dilucurkan, Beroperasi pada frekuensi L-band via 140 spotbeam yang melingkupi seluruh Asia, menawarkan layanan telepon bergerak berbasis satelit.

Garuda-2 semula dimaksudkan sebagai back-up untuk satelit Garuda-1, kemudian diproyeksikan untuk memperluas coverage ke Asia Tengah, Asia Barat Timur TEngah, Eropa dan Afrika Utara, namun akhirnya proyek ini kemudian dibatalkan dan tidak diteruskan.

BRISat

BRISat merupakan satelit milik Bank Rakyat Indonesia (BRI), dibuat oleh SSL dengan menggunakan platform SSL 1300. Memiliki kapasitas 36 transponder C-band dan 9 transponder Ku-band, berhasil diluncurkan pada 19 Juni 2016 menggunakan Ariane V dari Guyana Perancis. BRI menjadi bank pertama di dunia yang memiliki dan mengoperasikan satelitnya sendiri untuk mendukung usaha perbankannya.

PSN VI

PSN-VI adalah satelit milik PT. Pasifik Satelit Nusantara (PSN) yang akan beroperasi di slot orbit 146 BT, saat ini sedang dibangun oleh SSL dan direncanakan akan diluncurkan pada 2018 menggunakan Falcon-9 milik Space-X.

PSN-VI memiliki 38 transponder C-band dan memiliki terobosan untuk meningkatkan kapasitas dan digolongkan sebagai High Throughput Satellite (HTS) karena memiliki bandwidth yang besar, dengan coverage seluruh Indonesia dengan spotbeam sebanyak 8 buah.

Satelit LAPAN dan INSPIRE

Selain satelit-satelit komersial tersebut, Indonesia melalui Program Satelit Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (LAPAN) juga telah membuat dan meluncurkan beberapa satelit antara lain:

  1. INASAT-1 (Indonesia Nano Satelit-1), satelit nano yang beratnya sekitar 10 – 15 kg dan menggunakan frekuensi VHF/UHF. INASAT-1 adalah satelit karya anak bangsa pertama yang dirancang bersama oleh PT. Dirgantara Indonesia dan LAPAN pada tahun 2006, dengan kemampuan orbit hingga 6 – 12 bulan.
  2. LAPAN-A1/LAPAN-TUBSAT, satelit mikro yang dibuat pada tahun 2007 dengan berat sekitar 57 kg dan digunakan untuk penginderaan situasi bumi seperti kebakaran hutan, gunung berapi, banjir dan lain-lain.
  3. LAPAN-A2/LAPAN ORARI, mulai dibangun pada tahun 2008, didesain guna mendukung penanganan bumi, monitoring lalu-lintas kapal laut dan komunikasi radio amatir. Satelit ini dilepas oleh Presiden RI Joko Widodo pada tanggal 3 September 2015 untuk  dikirim ke India dan diluncurkan dari sana.
  4. LAPAN-A3/LAPAN IPB, diluncurkan pada 31 Mei 2016 yang digunakan untuk memantau lahan pertanian dan pemantauan maritim.

Selain LAPAN juga terdapat konsorsium INSPIRE (Indonesia Nano Satellite Program for Research and Education) yang mengembangkan proyek satelit nano Indonesian Inter University Satellite – 1 (IiNUSAT-1) dan berhasil diluncurkan pada tahun 2012.

 

Referensi
Satelit untuk anak bangsa – ASSI
https://id.wikipedia.org/wiki/Satelit

Posted by vdp in Blog
UBIQU hadir di APKASI 2017

UBIQU hadir di APKASI 2017

Sebagai wujud untuk bersama meningkatkan pertumbuhan ekonomi di daerah melalaui pemerataan jaringan informasi dan komunikasi dalm hal ini Internet, PT. Pasifik Satelit Nusantara (PSN) turut serta dalam acara APKASI OTONOMI EXPO (AOE) yang diselenggarakan oleh APKASI (Asosiasi Pemerintahan Kabupaten Seluruh Indonesia) di Jakarta Convention Centre (JCC) Senayan pada tanggal 19 – 21 Juli 2017.

AOE 2017 merupakan Even Pameran Tahunan Apkasi yang telah berlangsung selama 13 kali. Kegiatan yang menjadi pengganti Apkasi International Trade and Investment Summit (AITIS)/Indonesia Investment Week ini, merupakan upaya Apkasi dalam rangka ikut mensukseskan program pemerintah untuk meningkatkan pertumbuhan ekonomi di daerah melalui perdagangan dan investasi.

Selain pameran dan business matching, even tahunan ini juga akan menggelar Semiloka peningkatan kapasitas terkait dengan peningkatan perdagangan dan investasi. Dengan dihadiri lebih dari 10.000 pengunjung potensial setiap tahunnya yang berasal dari kalangan pelaku usaha dan investor dalam dan luar negeri.

Pada pameran kali ini PSN hadir dengan membawa produk dan layanan terbarunya, ubiqu – layanan internet satelit broadband yang dapat digunakan di seluruh Indonesia bahkan di daerah pelosok sekalipun yang tidak memiliki infrastruktur internet yang baik. ubiqu menempati boorh No. 87 – 107 di Hall A, JCC Senayan.

ubiqu adalah solusi internet yang dapat digunakan untuk pemerataan akses internet di desa atau daerah yang belum terjangkau jaringan internet yang memadai. Menggunakan teknologi satelit dan perangkat terbaru yang lebih kecil, ubiqu memiliki akses bandwidth internet besar hingga 10 Mbps. Cocok digunakan untuk pemerintahan desa, sekolah, perusahaan di daerah-daerah pelosok.

Untuk mendukung program pemerintah dan Apkasi untuk meningkatkan pertumbuhan ekonomi daerah ini, ubiqu hadir dengan memberikan paket penawaran berlangganan internet untuk desa dengan harga yang terjangkau. Hanya dengan Rp. 13.5 juta rupiah (termasuk PPN, belum termasuk pengiriman dan pemasangan), desa sudah mendapatkan akses Internet selama 1 tahun dengan quota hingga 8 GB/bulan, domain desa dan web desa gratis di tahun pertama.

Untuk informasi lebih lanjut, segera kunjungi  booth ubiqu di APKASI OTONOMI EXPO 2017, 19 – 21 Juli 2017, JCC Senayan, Hall A, Booth No 87-107, atau hubungi kami.

Posted by ubiqu in Berita